Rabu, 31 Agustus 2016
Selasa, 02 Agustus 2016
Jumat, 29 Juli 2016
Kamis, 27 Agustus 2015
Artikel ke-5 saya yaitu biografi KH Zainuddin MZ Jakarta
Nama Lengkap:
Nama Sebutan:
Tempat Tanggal Lahir :
Wafat :
Ayah :
Ibu :
Istri :
Putra-putrinya :
Lutfi M.Z
Kiki M.Z
Zaki M.Z.
Pendidikan :
Dr Hc Universitas Kebangsaan Malaysia
Karier :
Pengurus aktif PPP,
Anggota dewan penasihat DPW DKI Jakarta.
Ketua umum PBR sampai tahun 2006.
Agama :
(lahir di Jakarta, 2 Maret 1952 - meninggal di Jakarta, 5 Juli 2011 pada umur 59 tahun)
Adalah seorang pemuka agama Islam di Indonesia yang populer melalui ceramah-ceramahnya di radio dan televisi. Julukannya adalah "Da'i Sejuta Umat" karena dakwahnya yang dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Ia pernah menjabat sebagai ketua umum Partai Bintang Reformasi, kemudian digantikan oleh Bursah Zarnubi.
Seiring pergantian tersebut, terjadilan friksi di dalam partai. Zainuddin yang pernah aktif di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kemudian dikabarkan kembali ke partai berlambang Ka'bah itu atas tawaran Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PPP Suryadharma Ali .
Zainuddin menempuh pendidikan tinggi di IAIN Syarif Hidayatullah dan berhasil mendapatkan gelar doktor honoris causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia .
Masa Kecil Kh.zainudin Mz
Zainuddin merupakan anak tunggal buah cinta pasangan Turmudzi dan Zainabun dari keluarga Betawi asli. Sejak kecil memang sudah nampak mahir berpidato.
Udin -nama panggilan keluarganya- suka naik ke atas meja untuk berpidato di depan tamu yang berkunjung ke rumah kakeknya. 'Kenakalan' berpidatonya itu tersalurkan ketika mulai masuk Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Madrasah Aliyah di Darul Ma'arif, Jakarta. Di sekolah ini ia belajar pidato dalam forum Ta'limul Muhadharah (belajar berpidato). Kebiasaannya membanyol dan mendongeng terus berkembang. Setiap kali tampil, ia memukau teman-temannya. Kemampuannya itu terus terasah, berbarengan permintaan ceramah yang terus mengalir.
Karier
Karena ceramahnya sering dihadiri puluhan ribu ummat, maka tak salah kalau pers menjulukinya 'Da'i Sejuta Umat'.
Suami Hj. Kholilah ini semakin dikenal masyarakat ketika ceramahnya mulai memasuki dunia rekaman. Kasetnya beredar bukan saja di seluruh pelosok Nusantara, tapi juga ke beberapa negara Asia. Sejak itu, da'i yang punya hobi mendengarkan lagu-lagu dangdut ini mulai dilirik oleh beberapa stasiun televisi. Bahkan dikontrak oleh sebuah biro perjalanan haji yang bekerjasama dengan televisi swasta bersafari bersama artis ke berbagai daerah yang disebut "Nada dan Dakwah".
Kepiawaian ceramahnya sempat mengantarkan Zainuddin ke dunia politik. Pada tahun 1977-1982 ia bergabung dengan partai berlambang Ka'bah (PPP). Jabatannya pun bertambah, selain da'i juga sebagai politikus. Selain itu, keterlibatannya dalam PPP tidak bisa dilepaskan dari guru ngajinya, KH Idham Chalid. Sebab, gurunya yang pernah jadi ketua umum PBNU itu salah seorang deklarator PPP. Dia mengaku lama nyantri di Ponpes Idham Khalid yang berada di bilangan Cipete, yang belakangan identik sebagai kubu dalam NU.
Sebelum masuk DPP, dia sudah menjadi pengurus aktif PPP, yakni menjadi anggota dewan penasihat DPW DKI Jakarta. Lebih jauh lagi, berkat kelihaiannya mengomunikasikan ajaran agama dengan gaya tutur yang luwes, sederhana, dan dibumbui humor segar, partai yang merupakan fusi beberapa partai Islam itu jauh-jauh hari (sejak Pemilu 1977) sudah memanfaatkannya sebagai vote-getter. Bersama Raja Dangdut Rhoma Irama, Zainuddin berkeliling berbagai wilayah mengampanyekan partai yang saat itu bergambar Ka'bah -sebelum berganti gambar bintang. Hasil yang diperoleh sangat signifikan dan memengaruhi dominasi Golkar. Tak ayal, kondisi itu membuat penguasa Orde Baru waswas. Totalitas Zainuddin untuk PPP bisa dirunut dari latar belakangnya. Pertama, secara kultural dia warga nahdliyin, atau menjadi bagian dari keluarga besar NU. Dengan posisinya tersebut, dia ingin memperjuangkan NU yang saat itu menjadi bagian dari fusi PPP yang dipaksakan Orde Baru pada 5 Januari 1971. Untuk diketahui, ormas lain yang menjadi bagian fusi itu, antara lain, Muslimin Indonesia (MI), Perti, dan PSII.
Selain itu, keterlibatannya dalam PPP tidak bisa dilepaskan dari guru ngajinya, KH Idham Chalid. Sebab, gurunya yang pernah jadi ketua umum PB NU itu salah seorang deklarator PPP. Pada 20 Januari 2002 K.H. Zainudiin M.Z. bersama rekan-rekannya mendeklarasikan PPP Reformasi yang kemudian berubah nama menjadi Partai Bintang Reformasi dalam Muktamar Luar Biasa pada 8-9 April 2003 di Jakarta. Ia juga secara resmi ditetapkan sebagai calon presiden oleh partai ini. Zainuddin MZ menjabat sebagai Ketua umum PBR sampai tahun 2006.
Zainuddin kembali fokus untuk menebarkan dakwah dan kembali berada di tengah-tengah umat.
Di kutip dari:
http://wikipedia.org/
Badai fitnah kepada Kh.zainudin MZ
Di tengah upayanya terjun kembali menekuni dakwah, KH Zainuddin MZ dihantam badai fitnah yang sangat keji media Oktober 2010. Seorang penyanyi dangdut murahan bernama Aida Saskia membuat pengakuan menggegerkan, mengaku menjadi korban tindakan asusila Dai Sejuta Umat.
Kasus yang sempat menggegerkan Tanah Air dan menjadi menu utama sajian media-media nasional itu terjadi tak berselang lama dengan maraknya kasus video Ariel (mantan vokalis Peterpan) dengan Luna Maya dan Cut Tari. Aida yang muncul dari jagad antah-berantah (baca: tak dikenal) tiba-tiba mengguncang dengan rumor dan gosip yang ia umbar di media. Selama beberapa pekan, informasi di layar kaca dan media cetak dipenuhi berita seputar penyanyi dangdut kelahiran Bogor itu.
Sementara itu, Zainuddin MZ enggan buka suara mengomentari fitnah yang sangat memojokkan dirinya. Pro-kontra pun merebak.
Sebuah kelompok yang menamakan diri Forum Solidaritas Ulama (FSU), kumpulan para pendukung Zainuddin, angkat bicara. Hafiz Syahnara, juru bicara FSU, menegaskan KH Zainuddin MZ tidak pernah melakukan perbuatan keji tersebut. "Demi Allah, tidak pernah melakukan (perbuatan) itu," kata Hafiz, mengutip sumpah Zainuddin MZ
Kata Hafiz, pernyataan sumpah ini dilontarkan Zainuddin MZ saat pertama kali mendengar kabar tersebut.
Dia juga membantah telah menikahi Aida secara siri, apalagi menyuruhnya melakukan operasi keperawanan sebagaimana yang dituduhkan selama ini. Kh.Zainuddin mengaku heran dengan munculnya fitnah atas dirinya.
Tak berlangsung lama, hempasan fitnah sang penyanyi dangdut kian lemah dan berhenti dengan sendirinya. Badai fitnah itu Tak cukup kuat untuk mengusik kekokohan sang Dai, apalagi menggoyahkannya. Dan Zainuddin MZ pun kembali konsentrasi berdakwah. Bahkan mulai kerap muncul di layar kaca.
Di kutip dari:
http://republika.co.id/
Pernyataan resmi Forum Solidaritas Ulama (FSU)
Pernyataan Resmi FSU, Aida Saskia Adalah Perempuan Murahan
Forum Solidaritas Ulama (FSU) merasa bahwa tuduhan pemerkosaan Aida Saskia terhadap Zainuddin MZ adalah fitnah. Tim investigasi mereka yang terdiri dari para ulama kondang berhasil mengumpulkan fakta dan data yang menyatakan bahwa Aida Saskia adalah seorang perempuan murahan yang sering kumpul kebo dengan laki-laki.
Berikut ini adalah data dari hasil investigasi tim ulama FSU yang dipublikasikan di Jakarta pada hari Rabu, 13 Oktober 2010:
1. Aida Saskia adalah seorang perempuan murahan yang sering gonta-ganti pasangan, dan berzinah di berbagai hotel di dalam maupun di luar kota.
2. Aida Saskia pernah dibawa oleh seorang keluarganya untuk menggugurkan kandungan akibat hubungan gelapnya pada tahun 2007 (ada saksi/ narasumber).
3. Aida Saskia sering melakukan hubungan kumpul kebo/hubungan intim/bersetubuh di luar nikah dengan pria yang berbeda (ada saksi/narasumber).
4. Aida Saskia sering memberikan hadiah kepada pasangan kumpul kebo yang disukainya, termasuk satu orang yang dibelikan mobil (ada saksi/ narasumber).
5. Aida Saskia berbohong dengan menyatakan bahwa ia telah menunggu selama sembilan tahun karena dijanjikan akan diberikan rumah dan mobil oleh Zainuddin MZ (pengakuan KH Zainuddin MZ dibawah sumpah)
. 6. Aida Saskia adalah seorang pecandu zat adiktif yang dilarang pemerintah R. I. Dengan demikian, Sdri. Aida Saskia adalah pelanggar hukum. Bahwa Sdri. Aida Saskia sering terlihat di klub malam Stadium (ada saksi/narasumber).
Kesimpulan:
1. Aida Saskia telah melakukan pencemaran nama baik terhadap KH Zainuddin MZ. Diduga telah didanai pihak ketiga untuk melakukan pembunuhan karakter kepada KH Zainuddin MZ beserta keluarga dan umat.
2. Bahwa apa yang dikatakan Aida Zaskia tidak benar. Dan KH Zainuddin MZ tidak perlu minta maaf terhadap apa yang telah diutarakan oleh Sdri Aida Saskia di hadapan para jurnalis.
Misteri Nama "MZ"
Jakarta - Banyak orang yang mengira nama MZ di belakang nama Zainuddin adalah 'Memang Zainuddin'. Ada juga yang menyebut MZ adalah kepanjangan dari Mohammad Zein. Namun semua dugaan itu terbantahkan. Lalu apa arti MZ? "MZ itu diambil dari nama ayah Zainuddin. Nama ayahnya Turmudzi. Huruf M dan Z nya yang diambil menjadi nama belakang pak Zainuddin," ujar asisten dai sejuta umat Zainuddin MZ, H Fatulloh saat berbincang dengan detikcom, Rabu (6/7/2011).
Namun kata Fatulloh, Zainuddin tidak pernah mengungkapkan kenapa ia mengambil kedua huruf itu untuk dijadikan nama panjang Zainuddin. "Bapak enggak pernah cerita kenapa beliau mengambil kedua huruf itu. Ya cuma langsung dipakai saja sejak pertama kali berdakwah," terangnya.
Fatulloh bercerita Zainuddin suka bercanda jika ditanya apa kepanjangan MZ. "Bapak kalau ditanya apa arti MZ. Pasti dibilangnya 'Memang Zainuddin'. Suka dibuat bercanda, cuma lucu-lucuan. Tapi kalau dibilang Mohammad Zein, jauh itu. Enggak ada hubungannya sama sekali," tutur Fatulloh sambil tertawa kecil.
Nama asli kiai itu sendiri adalah Zainuddin Hamidi. Nama itulah yang tercantum dalam KTP dan surat lahir Zainuddin. Menurut Fatulloh, Zainuddin tidak menggunakan nama aslinya karena terlalu panjang. Huruf MZ dipilih agar lebih singkat dan lebih mudah dihapal banyak orang.
"Menggunakan nama ayah itu kan dalam Islam sunnah. Nama aslinya tidak dihilangkan kok, hanya tidak dipakai. Nama di paspor Bapak juga dipakai keduanya, Zainuddin Hamidi MZ," ujar Fatulloh.
Dalam nisannya pun, tertulis nama Zainuddin MZ bukan Zainuddin Hamidi. Fatulloh bercerita tidak ada permintaan khusus terkait tulisan nama di nisan. Hanya memudahkan bagi para pelayat karena yang dikenal nama panjang MZ bukan Hamidi
Bercerita soal ayah Zainuddin, lanjut Fatulloh, Turmudzi bukan seorang ulama besar seperti Zainuddin, tapi ia seorang yang taat beragama. Turmudzi sendiri sudah lama meninggal dunia, ia merupakan pensiunan PT PLN (Persero). Sementara ibu Zainuddin yang bernama Zainabun hanyalah seorang ibu rumah tangga.
"Zainuddin anak pertama dari empat bersaudara. Tapi hanya Pak Zainuddin yang jadi ulama. Keempat saudara Pak Zainuddin itu tiri karena ibunya menikah lagi setelah Pak Turmudzi meninggal," kisahnya.
Sejak lahir, Zainuddin tinggal di rumah orangtuanya di Jl Gandaria Gang Cemara Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Namun sejak tahun 1986, mereka pindah ke alamat yang sama namun berbeda gang, yaitu Gang Haji Aom No 101.
"Di sana kan sempit, mobil tidak bisa masuk. Akhirnya pindah ke Gang Haji Aom. Rumah yang di Gang Cemara sekarang ditempati adik tirinya. Keluarga Pak Zainuddin sendiri di Gang Haji Aom, sekarang yang tinggal di sana istri dan anak bungsu Zainuddin, Zaki. Namun karena Bapak baru saja meninggal ya semua berkumpul di sini," tutup Fatulloh yang kemudian berpamit karena harus menemui para pelayat Zainuddin.
Di kutip dari:
http://m.detik.com/
KH.Zainudin MZ. Meninggal Dunia
Kh.Zainuddin MZ meninggal dunia Selasa (5/7/2011) pukul 09.20 WIB. dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Pusat Pertamina,
karena serangan jantung dan gula darah. Beliau meninggal setelah sarapan bersama keluarga di rumahnya Gandaria I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Beliau dimakamkan di halaman Masjid Jami Fajrul Islam yang terletak di depan rumahnya.
Artikel Saya yang ke-4 ialah Ulama' Kharismatik Kudus Yaitu KH Sya'roni Ahmadi Al Hafidz, Kudus
KH Sya'roni
Ahmadi Al Hafidz, Ulama Kharismatik Kudus
KH Sya'roni Ahmadi Al Hafidz Terlahir
dari keluarga santri, sejak kecil Kiai Sya’roni dikenal sebagai anak yang
gandrung mengkaji agama, mulai dari Al Quran sampai tauhid, fikih, tasawuf dan
sebagainya. Terbukti, meskipun berasal dari keluarga dari ekonomi pas-pasan,
beliau rajin mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan di sekitar kota Kudus.
Sya’roni kecil termasuk anak yang
cerdas. Pada usia 11 tahun berliau sudah hafal kitab Alfiyah Ibnu Malik bahkan
hafal al-Quran pada usianya yang ke-14.
Kiai Sya’roni merupakan anak yang ke
tujuh dari delapan bersaudara. Beliau ditinggalkan ibundanya semenjak kecil
tepatnya ketika berusia 8 tahun. Sepeninggal ibunya kiai Sya’roni di asuh oleh
sang ayah.
Namun masa ini pun tidak berlangsung
lama. Karena menginjak usiannya yang ke 13 tahun, kiai Sya’roni ditinggal oleh
ayahnya. Lengkap sudah duka kiai Sya’roni karena sejak saat itu ia menjadi anak
yatim piatu.
Dalam pendidikan formalnya beliau
sempat mengenyam pendidikan di Madrasah Diniyah Mu’awanah di Madrasah Ma’ahid
lama -(pada masa KH. Muchit). Sedangkan pendidikan non formalnya, baliau banyak
belajar dari satu tempat ke tempat lain.
Untuk belajar al-Qur’an utamanya
Qira’ah al-Sab’iyyah berliau berguru kepada KH. Arwani Amin Kudus yang mengasuh
pondok Yanbu’ul Qur’an. Beliau juga sempat berguru kepada KH. Turaikhan
Ajjuhri. Sedangkan guru-gurunya yang lain adalah KH. Turmudzi dan KH. Asnawi
dan lain-lain.
Kiai Sya’roni banyak dikenal sebagai
sosok yang menguasai ilmu agama secara interdisipliner. Beliau tidak hanya
mahir dalam ilmu tafsir, tetapi juga dalam ushul al-fiqh, fikih, mantiq,
balaghah dan sebagainya.
Dalam hal Al Qur’an, baliau tidak
hanya pandai membacanya namun juga pintar melagukannya bahkan beliau menjadi
dewan Musabawah Tilawatil al-Qur’an (MTQ) tingkat nasional.
Setelah sekian lama bergumul dengan
ilmu dan pengajian-pengajian, kiai Sya’roni akhirnya menikah pada tahun 1962.
Beliau menyunting seorang gadis bernama Afifah. Dari pernikahan itu beliau
deianugerahi 8 anak putra, 2 anak laki-laki dan 6 anak perempuan.
Model dan Strategi Dakwah
Setelah sekian lama belajar, Kiai
Sya’roni mulai berdakwah di masyarakat dalam usianya yang sangat muda.
Dalam melaksanakan dakwah Islamiyah
ini, Kiai Sya’roni menggunakan dua model. Pertama yakni model dakwah di
masjid-masjid atau di sebuah rumah warga yang dijadikan tempat untuk mengaji;
kedua adalah pengajian umum atau tabligh akbar.
Metode pertama ini biasanya dipakai
dan dikonsumsi oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Pengajian yang
dilakukan sudah ditetapkan jadwalnya dan proses pengajarannya pun dilakukan
secara berkesinambungan.
Sedang model kedua biasanya dipakai
untuk berdakwah di luar daerah. Hal ini karena di samping masalah waktu yang
tidak memungkinkan untuk berdakwah dengan model pertama juga terkadang karena permintaan
dari penduduk setempat.
Dalam melakukan dakwah Islamiyah,
sekitar tahun 1960 sampai 1970-an, Kiai Sya’roni dikenal sebagai tokoh yang
sangat keras. Apalagi saat itu adalah masa-masa ideologi komunisme yang
dilancarkan PKI.
Gaya yang “keras” ini selalu dipakai
Kiai Sya’roni dalam berbagai kesempatan karena keadaan waktu itu mengandaikan
demikian. Baik ketika khutbah maupun pengajian umum atau tabligh akbar beliau
selalu tampil dengan mengambil hukum yang tegas ketika dihadapkan pada suatu permasalahan
yang terjadi dalam masyarakat (waqi’iyyah). Konon gaya seperti ini sering
dipakai KH. Turaikhan dalam berdakwah.
Namun sekitar periode 1980-an, kiai
Sya’roni mulai banting setir. Gaya dakwah yang selama ini dilakukan dengan nada
keras dirubah total dengan memakai gaya yang melunak. Perubahan gaya dalam
berdakwah ini dilakukan dengan pendekatan komparatif yakni merujuk kepada
pergeseran masyarakat dari waktu ke waktu serta logika kebutuhan masyarakat
yang tiap saat berubah. Karena masyarakat dari waktu ke waktu berubah maka
metode berdakwah pun mesti berubah
Latar Politik
Zaman penjajahan Belanda Kiai
Sya’roni sempat terlibat dalam perang perang gerilya dalam rangka pengusiran
Belanda dari muka bumi Indonesia.
Pada 1965 yakni masa pemberontakan
PKI Kiai Sya’roni juga merupakan salah seorang yang menjadi target operasi yang
dilakukan oleh PKI. Hal ini karena Kiai Sya’roni merupakan sosok yang rajin
berkampanye dan membuat pengajian-pengajian. Kiai Sya’roni dengan tegas menolak
ideologi komunisme PKI.
Dalam konteks kepartaian, pada 1955
Kiai Sya’roni merupakan sosok yang rajin berkampanye untuk partai ka’bah.
Sampai dengan tahun 1970-an Kiai Sya’roni juga sering terlibat aktif dalam
partai NU sampai akhirnya NU mengambil keputusan kembali ke Khittah 1926 dalam
Muktamar Situbondo. Dan beliau merupakan orang NU yang mendukung kembali
khittah NU 1926.
Adapun pasca khittah NU kiai
Sya’roni juga sempat terlibat di Partai persatuan Pembangunan (PPP). Namun
beliau hanya bermain di belakang layar dan tidak berada di garis struktural
kepartaian. Beliau cenderung mengambil posisi netral.
Langkah ini menjadikan kiai Sya’roni
mampu diterima oleh semua kalangan. Hubungan dengan pemerintah daerah yang
waktu itu didominasi oleh Golkar tetap terjaga dengan baik. Ditambah lagi
dengan pembawaan beliau yang lunak dan halus.
Beliau juga sangat menghindari
kepentingan partai dalam setiap pengajian yang dilakukan. Kegiatan kultural
Kiai Sya’roni tetap berjalan dengan baik. Bahkan beliau menjadi sosok yang
disegani, baik oleh pemerintah daerah maupun kelompok-kelompok yang lain.
Karya-Karya
Kiai Sya’roni merupakan sosok yang
bukan hanya pandai membaca kitab dan berpidato, namun beliau juga tergolong
produktif dalam berkarya. Tercatat beliau kerap menulis, mensyarah dan
menterjemah beberapa kitab yang digunakan untuk mengajar. Kitab-kitab tersebut
banyak dikonsumsi pleh madrasah-madrasah di kota Kudus. Adapun karya-karya
tersebut adalah :
1. Al-Faraid al-Saniyah
Kitab ini banyak mengupas tentang doktrin ahlusunnah
wal jama’ah. Penyusunan kitab ini konon diilhami oleh kitab Bariqat
al-Muhammadiyah ‘ala Tariqat al-Ahmadiyah milik KH. Muhammadun Pondowan, Tayu,
Pati yang saat itu rajin berpidato dan mengisi pengajian untuk menolak gerakan
Muhammadiyah di kota Kudus. Kiai Sya’roni menulis kitab ini selama kurang lebih
dua tahun.
2. Faidl al-Asany
Kitab ini terbagi ke dalam tiga juz dan banyak
membahas tentang Qira’ah al-Sab’iyyah.
3. Al-Tashrih al-Yasir fi ‘ilmi
al-Tafsir
Kitab ini banyak mengupas tentang tafsir al-Qur’an
mulai dari pembacaan, lafal-lafalnya, sanad, arti-arti yang berhubungan dengan
hukum dan sebagainya. Kitab setebal 79 halaman ini ditulis pada tahun 1972
M/1392 H
4. Tarjamah Tarsil al-Turuqat
Kitab ini membahas ilmu manthiq
5. Tarjamah al-Ashriyyah
Kitab ini membahas ilmu Ushul al-Fiqh yang banyak
mengupas tentang lafadz ‘amm dan khas, mujmal dan mubayyan, ijma, qiyas dan
sebagainya. Kitab ini disusun pada hari ahad siang tanggal 29 Juni 1986 M/21
Syawal 1406 H
6. Qira’ah al-Ashriyyah
Kitab ini terdiri dari tiga juz. Penyusunan kitab ini
dimaksudkan, sebagaimana penuturan Kiai Sya’roni, untuk memudahkan para santri
atau para siswa dalam mempelajari kitab kuning.
Kekinian
Selama perjuangannya di Kudus, Kiai
Sya’roni telah memberikan banyak hal. Tradisi santri yang sekarang ini lekat
dengan masyarakat Kudus rasanya tak bisa dilepaskan dari jasa beliau. Pengajian
rumahan atau di masjid-masjid seperti di Masjid Al Aqsha Menara Kudus masih
rutin dijalankan. Pengajian tersebut di antaranya adalah membaca al-Qur’an dan
tafsir Al Qur’an. Adapun waktunya setelah Subuh. Dalam setiap pengajiannya,
kiai Sya’roni juga mampu men-setting iklim toleransi antara beberapa kelompok
yang ada, sebut saja kaum Nahdliyyin dan Muhammadiyah.
Dalam bidang pengembangan fisik,
kiai Sya’roni banyak memberikan jasa dalam mengembangkan madrasah-madrasah di
kota Kudus, seperti Madrasa Banat NU, Muallimat, Qudsiyyah, Tasywiq al-Thullab
al-Salafiyah (TBS), dan Madrasah Diniyah Keradenan Kudus.
Kiai Sya’roni juga tercatat sebagai
penasehat Rumah Sakit Islam YAKIS dan menjabat mustasyar NU cabang Kudus.
Beliau juga mengisi pengajian rutin tiap ahad pagi di Masjid Jama’ah Haji Kudus
(JKH).
Artikel Saya yang ke-3 adalah biografi dari Kyai penulis Qur'an Kudus yaitu KH.M Arwani Amin Kudus
Selain
dikenal dengan sebutan Kota Kretek, Kudus juga dikenal sebagai Kota
Religius atau lebih medasar lagi dikenal dengan sebutan Kota Santri.
Pasalnya, banyak di antara santri yang menuntut ilmu di kota yang
kharismatik yang menjadi panutan masyarakat sekitar Kudus. Di antara
sekian banyak ulama di kota Kudus banyak ulama di kota Kudus yang
menjadi tauladan bagi masyarakat adalah beliau al-Maghfurlah KH. M.
Arwani Amin.
Sekitar lebih 100 meter di sebelah
selatan Masjid Menara Kudus, tepatnya di Desa Madureksan, Kerjasan, dulu
tersebutlah pasangan keluarga shaleh yang sangat mencintai al-Qur’an.
Pasangan keluarga ini adalah KH. Amin Sa’id dan Hj. Wanifah. KH. Amin
Sa’id ini sangat dikenal di Kudus kulon terutama di kalangan santri,
karena beliau memiliki sebuah toko kitab yang cukup dikenal, yaitu toko
kitab al-Amin. Dari hasil berdagang inilah, kehidupan keluarga mereka
tercukupi.
Yang menarik adalah, meski keduanya (H.
Amin Sa’id dan istrinya) tidak hafal al-Qur’an, namun mereka sangat
gemar membaca al-Qur’an. Kegemarannya membaca al-Qur’an ini, hingga
dalam seminggu mereka bisa khatam satu kali. Hal yang sangat jarang
dilakukan oleh orang kebanyakan, bahkan oleh orang yang hafal al-Qur’an
sekalipun.
Kelahiran KH. M. Arwani Amin Said
KH. M. Arawani Amin Said dilahirkan pada
hari Selasa Kliwon pukul 11.00 siang tangga l5 Rajab 1323 H bertepatan
dengan 5 September 1905 M di kampung Kerjasan Kota Kudus Jawa Tengah.
Ayah beliau bernama H. Amin Said dan ibunya bernama Hj.Wanifah.
Sebenarnya nama asli beliau adalah Arwan,
akan tetapi setelah beliau menunaikan ibadah haji yang pertama namanya
diganti menjadi Arwani. Dan hingga wafat beliau dikenal memiliki nama
lengkap sebagai KH. M. Arawani Amin Said dan panggilan akrabnya adalah
Mbah Arwani Kudus.
Arwan adalah anak kedua dari 12
bersaudara. Kakaknya yang pertama seorang perempuan bernama Muzainah.
Sementara adik-adiknya secara berurutan adalah Farkhan, Sholikhah, H.
Abdul Muqsith, Khafidz, Ahmad Da’in, Ahmad Malikh, I’anah, Ni’mah,
Muflikhak dan Ulya. Dari kedua belas ini, ada tiga yang paling menonjol,
yaitu Arwan, Farkhan dan Ahmad Da’in, ketiga-tiganya hafal al-Qur’an.
Dari sekian saudara KH. M. Arwani Amin,
yang dikenal sama-sama menekuni al-Qur’an adalah Farkhan dan Ahmad
Da’in. Ahmad Da’in, adiknya Mbah Arwani ini bahkan terkenal jenius,
karena beliau sudah hafal al-Qur’an terlebih dahulu daripada Mbah Arwan
yakni pada umur 9 tahun. Ia bahkan hafal Hadits Bukhori Muslim dan
menguasai Bahasa Arab dan Inggris. Kecerdasan dan kejeniusan Da’in
inilah yang menggugah Mbah Arwani dan adiknya Farkhan, terpacu lebih
tekun belajar.
Arwan kecil hidup di lingkungan yang
sangat taat beragama (religius). Kakek dari ayahnya adalah salah satu
ulama besar di Kudus, yaitu KH. Imam Haramain. Sementara garis nasabnya
dari ibu, sampai pada pahlawan nasional yang juga ulama besar Pangeran
Dipenegoro yang bernama kecil Raden Mas Ontowiryo.
Kehidupan Keluarga KH. M. Arwani Amin
Ayahanda Mbah Arwani yaitu H. Amin Said
adalah seorang kiyai yang cukup disegani dan dihormati oleh masyarakat
disekitar beliau tinggal. Meskipun ayah dan bunda beliau tidak hafal
al-Qur’an, namun tempat tinggal beliau dikenal sebagai rumah al-Qur’an,
karena setiap pekan mereka selalu mengkhatamkan al-Qur’an.
Istri beliau bernama Ibu Nyai Hj. Naqiyul
Khud. Beliau menikah pada tahun 1935 M dimana pada saat itu status
beliau adalah seorang santri dari pondok pesantren al-Munawir Krapyak
Yogyakarta. Ibu Naqi adalah putri dari H. Abdul Hamid, seorang pedagang
kitab. Tokonya sekarang masih ada,bahkan semakin berkembang. Beliau
memiliki empat orang anak yaitu Ummi dan Zukhali Uliya (meninggal saat
masih bayi) serta KH. M. A. Ulin Nuha Arwani dan KH. M. A. Ulil Albab
Arwani.
Masa Menuntut Ilmu KH. M. Arwani Amin Said
KH. M. Arwani Amin dan adik-adiknya sejak
kecil hanya mengenyam pendidikan di madrasah dan pondok pesantren.
Arwani kecil memulai pendidikannya di Madrasah Mu’awanatul Muslimin,
Kenepan, sebelah utara Menara Kudus. Beliau masuk di madrasah ini
sewaktu berumur 7 tahun. Madrasah ini merupakan madrasah tertua yang ada
di Kudus yang didirikan oleh Syarikat Islam (SI) pada tahun 1912. Salah
satu pimpinan madrasah ini di awal-awal didirikannya adalah KH.
Abdullah Sajad.
Setelah sudah semakin beranjak dewasa,
akhirnya memutuskan untuk meneruskan ilmu agama Islam ke berbagai
pesantren di tanah Jawa, seperti Solo, Jombang, Jogjakarta dan
sebagainya. Dari perjalanannya berkelana dari satu pesantren ke
pesantren itu, talah mempertemukannya dengan banyak kiai yang akhirnya
menjadi gurunya (masyayikh).
Adapun sebagian guru yang mendidik KH. M.
Arwani Amin diantaranya adalah KH. Abdullah Sajad (Kudus), KH. Imam
Haramain (Kudus), KH. Ridhwan Asnawi (Kudus), KH. Hasyim Asy’ari (Jombang), KH. Muhammad Manshur (Solo), KH. M. Munawir (Yogyakarta) dan lain-lain.
5. Kepribadian KH. M. Arwani Amin Said
Selama berkelana mencari ilmu baik di
Kudus maupun di berbagai pondok pesantren yang disinggahinya, KH. M.
Arwani Amin dikenal sebagai pribadi yang santun dan cerdas karena
kecerdasannya dan sopan santunnya yang halus itulah, maka banyak kiainya
yang terpikat. Karena itulah pada saat mondok KH. M. Arwani Amin sering
dimintai oleh kiainya membantu mengajar santri-santri lain. Lalu
memunculkan rasa sayang di hati para kiainya.
Beliau hidup di lingkungan masyarakat
santri yang sangat ketat dalam menghayati dan mengamalkan agama. Oleh
karena itu wajar saja jika beliau tumbuh menjadi seorang yang memiliki
perangai halus, sangat berbakti kepada kedua orang tua, mempunyai
solidaritas yang tinggi, rasa setia kawan dan suka mengalah tapi tegas
dalam memegang prinsip.
Beliau dikaruniai kecerdasan dan minat
yang kuat dalam menuntut ilmu. Pada masa remajanya dihabiskan untuk
menuntut ilmu mengembara dari pesantren ke pesantren. Tidak kurang dari
39 tahun hidup beliau dihabiskan untuk menuntut ilmu dari kota ke kota
yang dimulai dari kotanya sendiri yaitu Kudus. Kemudian dilanjutkan ke
Pesantren Jamsaren Solo, Pesantren Tebu Ireng Jombang, Pesantren
al-Munawir Krapyak Yogyakarta dan diakhiri di Pesantren Popongan Solo.
Sekitar tahun 1935, KH. Arwani Amin pun
melaksanakan pernikahan dengan salah satu seorang putri Kudus, yang
kebetulan cucu dari guru atau kiainya sendiri yaitu KH. Abdullah Sajad.
Perempuan sholehah yang disunting oleh beliu adalah ibu Naqiyul Khud.
Dari pernikahannya dengan ibu Naqiyul
Khud ini, KH. M. Arwani Amin diberi dua putrid dan dua putra. Putri
pertama dan kedua beliau adalah Ummi dan Zukhali (Ulya), namun kedua
putri beliau ini menginggal dunia sewaktu masih bayi.
Yang tinggal sampai kini adalah kedua
putra beliau yang kelak meneruskan perjuangan KH. M. Arwani Amin dalam
mengelola pondok pesantren yang didirikannya. Kedua putra beliau adalah
KH. Ulin Nuha (Gus Ulin) dan KH. Ulil Albab Arwani (Gus Bab). Kelak,
dalam menahkodai pesantren itu, mereka dibantu oleh KH. Muhammad
Manshur. Salah satu khadam KH. M. Arwani Amin yang kemudian dijadikan
sebagai anak angkatnya.
6. Perjuangan KH. M. Arwani Amin Said
Beliau mengajarkan al-Qur’an pertama kali
sekitar tahun 1942 di Masjid Kenepan Kudus yaitu setamat beliau nyantri
dari pesantren al-Munawir Krapyak Yogyakarta. Pada periode ini
santri-santri beliau kebanyakan berasal dari luar kota Kudus. Seiring
berjalannya waktu sedikit demi sedikit santri beliau semakin bertambah
banyak dan bukan hanya dari Kudus dan sekitarnya, tapi ada yang berasal
dari luar propinsi bahkan dari luar pulau Jawa. Kemudian beliau
membangun sebuah pondok pesantren yang diberi nama Yanbu’ul Qur’an yang
berarti Sumber al-Quran. Pondok pesantren ini didirikan pada tahun 1393
H/1979 M.
KH. M. Arwani Amin meninggalkan sebuah kitab yang diberi nama Faidh al-Barakat fi as-Sabi’a Qira’at.
Semasa hidupnya beliau juga mengajarkan
Thariqat Naqsabandiyah Kholidiah yang pusat kegiatannya bertempat di
mesjid Kwanaran. Beliau memilih tempat ini karena suasana di sekeliling
cukup sepi dan sejuk. Disamping itu tempatnya dekat perumahan dan sungai
Gelis yang airnya jernih untuk membantu penyediaan air untuk para
peserta kholwat. KH. M. Arwani amin juga pernah menjadi pimpinan
Jam’iyah Ahli ath-Thariqat al-Mu’tabarah yang didirikan oleh para kyai
pada tanggal 10 Oktobrr 1957 M. Dan dalam Mu’tamar NU 1979 di Semarang
nama tersebut diubah menjadi Jam’iyyah Ahl ath-Thariqat al-Mu’tabarah
an-Nahdliyyah (JATMAN).
7. Kelebihan KH. M. Arwani Amin Said
KH. M. Arwani Amin dikenal sebagai
seorang ulama yang sangat tekun dalam beribadah. Dalam melaksanakan
sholat wajib beliau selalu tepat waktu dan senantiasa berjamaah meskipun
dalam keadaan sakit. Kebiasaan tersebut sudah beliau jalani sejak
berada di pesantren.
Sewaktu masih belajar Qiraat Sab’ah pada
KH. Munawir di Krapyak yang pelajarannya dimulai pada pukul 02.00
dinihari sampai menjelang Shubuh beliau sudah siap pada pukul 12.00
malam. Dan sambil menunggu waktu pelajaran dimulai beliau manfaatkan
untuk melaksanakan sholat sunnah dan dzikir. Kebiasaan tersebut tetap
berlanjut setelah beliau kembali dan bermukim di Kudus.
Biasanya beliau mulai tidur pukul 20.00
WIB dan bangun pukul 21.00 WIB. Kemudian dilanjutkan melaksanakan sholat
sunnah dan dzikir. Apabila sudah lelah kemudian tidur lagi kira-kira
selama satu sampai dua jam kemudian bangun lagi untuk melaksanakan
sholat dan dzikir, begitu setiap malamya sehingga bila dikalkulasi
beliau hanya tidur dua sampai tiga jam setiap malamnya
KH. M. Arwani Amin Said dikenal oleh
msyarakat di sekitarnya sebagai seorang ulama yang memiliki kelebihan
yang luar biasa. Banyak yang mengatakan bahwa beliau adalah seorang
wali,beberapa santrinya mengatakan bahwa KH.Arwani Amin memiliki indra
keenam dan mengetahui apa yang akan terjadi dan melihat apa yang tidak
terlihat.
Konon, menurut KH. Sya’roni Ahmadi,
kelebihan Mbah Arwani dan saudara-saudaranya adalah berkat orangtuanya
yang senang membaca al-Qur’an. Dimana orangtuanya selalu menghatamkan
membaca al-Qur’an meski tidak hafal.
Selain barokah orantuanya yang cinta
kepada al-Qur’an, KH. Arwani Amin sendiri adalah sosok yang sangat haus
akan ilmu. Ini dibuktikan dengan perjalanan panjang beliau berkelana ke
berbagai daerah untuk mondok, berguru pada ulama-ulama.
Selama menjadi santri, Mbah Arwani selalu
disenangi para kyai dan teman-temannya karena kecerdasan dan
kesopanannya. Bahkan, karena kesopanan dan kecerdasannya itu, KH. Hasyim
Asy’ari sempat menawarinya akan dijadikan menantu.
Namun, Mbah Arwani memohon izin kepada
KH. Hasyim Asy’ari bermusyawarah dengan orang tuanya. Dan dengan sangat
menyesal, orang tuanya tidak bisa menerima tawaran KH. Hasyim Asy’ari,
karena kakek Mbah Arwani (KH. Haramain) pernah berpesan agar ayahnya
berbesanan dengan orang di sekitar Kudus saja.Akhirnya, Mbah Arwani
menikah dengan Ibu Nyai Naqiyul Khud pada 1935. Bu Naqi adalah puteri
dari H. Abdul Hamid bin KH. Abdullah Sajad, yang sebenarnya masih ada
hubungan keluarga dengan Mbah Arwani sendiri.
8. Anak Didik KH. M. Arwani Amin Said
Ribuan murid telah lahir dari pondok yang
dirintis KH. M. Arwani Amin tersebut. Banyak dari mereka yang menjadi
ulama dan tokoh. Sebut saja diantara murid-murid KH. M. Arwani Amin yang
menjadi ulama adalah:
1) KH. Sya’roni Ahmadi (Kudus)
2) KH. Hisyam (Kudus)
3) KH. Abdullah Salam (Kajen)
4) KH. Muhammad Manshur
5) KH. Muharror Ali (Blora)
6) KH. Najib Abdul Qodir (Jogja)
7) KH. Nawawi (Bantul)
8) KH. Marwan (Mranggen)
9) KH. A. Hafidz (Mojokerto)
10) KH. Abdullah Umar (Semarang)
11) KH. Hasan Mangli (Magelang)
2) KH. Hisyam (Kudus)
3) KH. Abdullah Salam (Kajen)
4) KH. Muhammad Manshur
5) KH. Muharror Ali (Blora)
6) KH. Najib Abdul Qodir (Jogja)
7) KH. Nawawi (Bantul)
8) KH. Marwan (Mranggen)
9) KH. A. Hafidz (Mojokerto)
10) KH. Abdullah Umar (Semarang)
11) KH. Hasan Mangli (Magelang)
9. KH. M. Arwani Amin Said Berpulang ke Rahmatullah
Dengan keharuman namanya dan berbagai
pujian dan sanjungan penuh rasa hormat dan ta’dzim atas kealimannya,
beliu wafat pada taggal 25 Rabiul Akhir tahun 1415 H atau bertepatan
dengan tanggal 1 Oktober tahun 1994 M dalam usia 92 tahun (dalam
hitungan Hijriyah). Beliau dimakamkan di komplek Pesantren Yanbu’ul
Qur’an Kudus.
Langganan:
Postingan (Atom)




